Bebek Slamet ing Ngayogyakarto

by lutfie 4/29/2009 9:04:00 PM
Setelah selesai kursus, saya memantapkan diri untuk menikmati bebek slamet.  Bukan apa-apa, saya kan belum checkup hehehehe...

Rasanya belum puas kalau belum mencicipi bebek slamet ini.  Tentu saja ini bukan bebek setan idaman seorang ladyboy di tanah thailand sana.  Ataupun bebek diagonal kesukaan seseorang nun jauh dipedalaman belantara kalimantan.  Ini hanya sekedar sepotong bebek goreng thok.

Begitu sampai pada shelter mangkubumi 1 yang dekat tugu, saya tinggal jalan kaki seperlemparan batu ke arah tugu yogya.  Cukup dekat koq.

Suasana warung eh rumah makan eh.. apa ya..pokoknya tempat makan deh, cukup nyaman.  Model bangku a la meja makan jaman dulu yang terbuat dari kayu, cocok banget keliatannya untuk mengudap makanan satu ini.  Cat pun dominan hijau sejuk dengan ruangan yang cukup besar.

Sengaja datang sekitar jam 16.00 dengan harapan, sedikit pesaing yang makan disitu.  Namun lumayan kecele juga.  Soalnya banyak juga yang sedang menikmati lembutnya daging bebek.  Mereka senasib kali.  Makan siang engga kenyang dan makan malam masih jauh ;)

Saya memesan sepotong dada menthok bebek dan segelas es gula asam.  Tak ketinggalan sepiring nasi putih hangat kebul-kebul.  Asesoris tambahan adalah sepiring lalapan yang terdiri dari timun, kemangi, kol dan daun pepaya.  Tak ketinggalan secobek kecil sambal koret.  Itu lho sambal yang dibuat dari ulekan cabe dengan dilumuri minyak jelantah.  Sambal kere kalo dikampungku.

Cukup sedap sih rasanya.  Tulangnya seolah begitu mudah remuknya dimulut.  Entah berapa lama masaknya dan berapa banyak protein yang hilang, namun saya tak peduli.  Mulut ini tak berhenti mengunyah daging lembut.  Tak lupa cabikan kulit yang berlemak, membikin air liur terus menetes berpadu dalam mulut.  Menimbulkan sensasi mak klenyeesss.....

Tak lupa sesekali menyedot air es gula asam nan segar.  Kecut segar dengan rasa manis samar-samar.  Mengalir lega dalam tenggorokan dan berlambuh nyaman di lambung dengan sensasi brrbrbrbrrrrrr... (kayak iklan minuman bersoda itu lhoo).

Cukup pelan dan lama juga saya memamah dan mengunyah.  Kalo ada dirumah, ingin rasanya "mengkrikiti" tulang belulang nan gurih. Sampai tandas.  Namun ada sisi lain yang melarang.  Engga ilok.  Padahal sayapun masih pengen menjalani ritual menjilat tangan nan penuh lemak dan minyak.  Namun yaitu tadi... engga ilok hehehehe...

Memang, bebek slamet ini full lemak dan full berlumuran minyak.  Namun saya seolah lupa.  Apalagi disekitar itu tak ada Cito Lab atau Lab kesehatan lainnya hehehhee...  Jadi kolesterol tak ada di bebek slamet.

Usai makan, dengan perut kenyang dan mata separuh ngantuk, saya mantabkan niat untuk pulang jalan kaki ke hotel.  Cukup jauh sih.. entah 1 atau 2 kilo.  Sengaja jalan ini demi menghilangkan rasa bersalah karena makan lemak segitu banyak.

Ternyata jalan sore itu menyenangkan sekali.  Sambil liat-liat toko-toko yang mau tutup dan emperannya dipakai sebagai dasaran warung segala macam warung.  Lesehan segala macam lesehan.  Gerobak berisi aneka barang jualan yang disorong para pedagang menuju magnet yogya, malioboro.  Wow Benar-benar republik wirausaha nan tangguh.

Uniknya, selama berjalan kaki, ada beberapa orang yang menyapa "Are you Malaysian ? Andong sir".  Atau ada juga yang nyeletuk "Malaysian ?".  Hmm Apakah karena perut buncit plus mata sipit berkulit coklat sehingga saya disapa begitu ya hehehehhe...

Sesampai dihotel sekitar setengah jam perjalanan santai.  Cukup kemringet dan pegal.  Mungkin Anda mengira dan membatin, "wah rugi dong...nyampe hotel jadi lapar lagi...".  Dugaan Anda pasti benar.  Namun jangan takut kawan, saya menyiapkan sekotak snack yang lumayan berat untuk cemilan makan malam hehehehehhee....

Happy gembul forever dehh....

Be the first to rate this post

  • Currently 0/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Tags:

Jalan-Jalan | Makan-Makan

Ngelaras Roso ing Ngayogyakarto Hadiningrat

by lutfie 4/28/2009 7:13:00 AM

Kata seorang teman, kalau belum pegang Tugu Yogya, berarti belum ke Yogya. Hmm boleh juga sih orang berpendapat seperti itu. Namun tentu saja saya lebih mantab kalau bilang, "belum ke yogya kalau belum kuliner sampai puassss....".

Hari Minggu kemarin, berdua dengan istri, saya mulai menjelajahi ruang kuliner Yogya. Perjalanan dimulai dengan berburu batik dan kaos. Biasalah...ketika dihadapan terhampar ruang belanja nan memikat, para istri biasanya menjadi lapar mata dan entah berapa rupiah akan melayang untuk kebutuhan satu ini.

Malioboro Yogya, tuntas sudah disatroni dari ujung ke ujung. Keluar masuk toko. Mulai dari emperan sampai Mirota yang kesohor. Semua dijelajahi. Termasuk blusukan di pasar Bringharjo. Lumayan pegel juga.

Sebagai tujuan pertama untuk memanjakan perut, kami langsung menuju Gudeg Wijilan. Tentu saja berusaha mencari yang orisinal. Gudeg Wijilan Hj. Lies 1 (ada angka satunya).

Kami menikmati gudeg kering sepertinya ditambah krecek dan lauk yang bisa dipilih. Tak lupa ditambah tahu bacem sebagai teman makan. Gudeg ini cukup enak dan tidak terlalu membuat kantong bolong. Sedaplah dengan menikmati makanan sambil lesehan dan diiringi organ tunggal tembang jawa.

Selepas makan siang, kami berburu jajan pasar di Bringharjo. Mencari kudapan untuk sore hari. Akhirnya kami berhasil memboyong kue kampung dan gorengan plus jadah bakar. Lumayan untuk cemilan.

Saat malam menjelang, kami berencana ke Warung Bebek Slamet, namun apa daya hujan mengguyur. Terpaksalah makan malam di habiskan di Malioboro Mall dengan menu oseng-oseng taoge dan sawi terus dikasih irisan ikan kakap. Istri saya lebih memilih meat and seafood sebagai campurang oseng-oseng toge dan sawi.

Terakhir....terpaksa badan ini di kerok karena mendadak masuk angin.....

Be the first to rate this post

  • Currently 0/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Tags:

Jalan-Jalan | Makan-Makan

Kopi Joss di Pinggiran Rel Stasiun Tugu, Yogyakarta

by lutfie 4/23/2009 9:51:00 AM
Setelah mengisi perut dengan Gudeg Bu Sri (jl HOS Cokroaminoto deket pasar maling/klithikan) yang cukup enak, saya dan teman (dosen muda UKDW) sepakat mencari kehangatan di malam gerimis. Stop !! jangan berpikir yang aneh-aneh ya walau kami juga melewati pasar legendaris jogja, yaitu Pasar Kembang alias SarKem.

Awalnya kami berencana menikmati wedang ronde diseputaran bumijo gowongan, namun berhubung telah habis tandas, arah pencarian kami ubah ke daerah sebelah utara stasiun Tugu. Apalagi kalau bukan angkringan kopi jos Lik Man.

Tempat ini khas rakyat jelata yang terkesan remang-remang dan menu a la kadarnya seperti sego kucing, gorengan, tahu dan lain-lain. Dengan bangku panjang menjulur dan meja panjang berlapis plastk. Lokasi yang terletak persis di trotoar pinggir jalan ini menyediakan juga faslitas lesehan alias gelar tiker. Namun berhubung gerimis, tiker tak ada yang digelar.

Angkringan Lik Man merupakan angkringan legendaris, sebab pedagangnya adalah generasi awal pedagang angkringan di Yogyakarta yang umumnya berasal dari Klaten. Lik Man yang bernama asli Siswo Raharjo merupakan putra Mbah Pairo, pedagang angkringan pertama di Yogyakarta yang berjualan sejak tahun 1950-an. Warung berkonsep angkringan yang dulu disebut 'ting ting hik' diwariskan kepada Lik Man tahun 1969. Sejak itu, menjamurlah angkringan-angkringan lain.

Saat kami datang, angkringan ini penuh sesak. Meja panjang terisi oleh berbagai macam golongan. Uniknya semua melebur jadi satu. Walau tak kenal, kita dengan santainya bisa nyeletuk omongan tetanga sebelah yang sedang ngobrol. Saling sapa dan berbagi kursi. Pokoknya Homy deh kata orang jaman sekarang. Enaknya lagi, tak usah berlagak formil di warung ndeso ini. Berkaus singlet atau sarungan udah merupakan asesoris yang cukup. Tempat ini akan menjadi neraka bagi orang yang sok jaim maupun yang nyinyir dengan kebersihan hehehehehe...

Lha koq malah ngelantur. Ok kita bahas bagian pentingnya, yaitu kopi.

Kopi sepertinya adalah kopi biasa. Kali ini saya belum sempet liat langsung cara bikinnya. karena suasana sedang penuh sesak. Yang menarik adalah segelas jumbo kopi diberi arang yang membara. Ya.. setelah dituangkan ke dalam gelas, arang membara langsung dimasukan dan berbunyi JOSSSS....

Konon kabarnya, metode ini cukup ampuh untuk mengurangi kadar kafein. Konon juga ini sudah diteliti oleh mahasiswa UGM untuk bahan skripsinya.

Setelah didiamkan beberapa saat, sang arang bisa diangkat dan disingkirkan. Lha iya masa arang nya mo diembat juga ? hehehehehe...

Slurupan pertama, ada sensasi lain. Sepertinya gula berubah sedikit menjadi rasa karamel dicampur bau gosong dan bahkan ad serpihan arang. Cukup enak sih. Ada rasa beda gitu dengan kopi standar.

Begitulah.. kami berdua menikmati cangkruk malam hari dengan obrolan ngalor ngidul mulai dari keluarga, politik, pacar, komputer, programming, bisnis dan entah apalagi. Tak terasa satu gelas besar kopi habis tandas. Total biaya yang dikeluarkan pun cukup murah, sepertinya sih dibawah 10 rebu. Entah berapa pastinya karena saya ditraktir hehehehe.....

Be the first to rate this post

  • Currently 0/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Tags:

Jalan-Jalan | Makan-Makan

Milad TDA ke 3 Bagian 1

by lutfie 3/2/2009 10:00:00 AM

Jujur saja, awalnya saya tidak tertarik datang ke festival entrepreuneur Indonesia ke 1 dan sekaligus ulang tahun ke 3 TDA di Jakarta. Alasan utama karena saya masih amphibi.  Rasanya belum pantas untuk datang di acara para pengusaha itu.  Alasan ini pula yang membuat saya tidak datang di acara milad 1 dan 2 :)

Namun entah ada angin apa, tiba-tiba saja saya begitu ingin banget datang ke acara tersebut.  Bukan karena pengen liat para pakar yang akan mengisi seminar ataupun bukan karena pengen ketemu para founder dan pengurus TDA Pusat.

Sejatinya hanya pengen silaturahmi dengan teman-teman komunitas.  Terutama dengan teman-teman TDA-Software.

Untunglah saya masih sempat mendapatkan tiket gelombang pertama yang senilai Rp. 200.000,- (terima kasih bu Izha dengan BCA nya).  Tak lupa saya siapkan dua box kartu nama buat dibagi :)

Sesampainya disana, saya mengikuti sesi pertama yang dibawakan oleh Pak Nukman Luthfi (sepertinya masih saudara dengan saya).  Beliau membawakan materi tentang internet dengan memberi 1001 jurus berbisnis online.  Buset deh acara begitu menarik dan memberikan pandangan-pandangan baru dalam berbisnis online.

Selanjutnya acara dilanjutkan oleh pak salim dari pilar dengan EVA Powernya.  Lebih menukik ke arah mentalitas dan attitude.

Sampai kedua seminar ini semangat saya semakin berlipat untuk menonton terus.  Sampai mulai lupa untuk mencari teman-teman TDA Software hhehehe.... Beruntung saya sempat ketemu dan bersalaman dengan pak Ade :)

Seminar ke 3 dibawakan oleh pak Salim Kartono yang terkenal dengan DRTV nya.  Membahas bisnis ritel dengan detail.

Seminar ke 4 digeber oleh pak Yuswohadi dari MarkPlus dengan materi marketing yang menjadi horisontal.

Seminar ke 5 dilanjut dengan bu Mutia dari Action Coach yang memberikan tips bisnis bagi para pemula agar bisa bertahan dari serangan krisis.

Seminar ke 6 diisi oleh mbak cameron yang sangat creative.  Ide-ide gila selalu muncul dari otaknya dan sangat mengagumkan, masih ada orang Indonesia yang berjuang untuk bangsanya secara kreatif.

Seminar ke 7 diisi oleh Yoris Sebastian, tokoh kreatif ini membawakan materi tentang branding yang kreatif.  Banyak ilmu baru saya dapatkan disini.

Seminar ini sangat "berdaging" dan "berisi" semua.  Secara keseluruhan saya terpuaskan di hari pertama ini.  Selesai sudah hari pertama, dan saya masih belum ketemu dan ngobrol banyak dengan teman-teman tda software.

Detail masing-masing akan saya tulis terpisah :)

Jadi...para pembaca...sabar ya.. 

Be the first to rate this post

  • Currently 0/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Tags:

Belajar | Jalan-Jalan

Obsessive Compulsive Disorder Kah Saya ?

by lutfie 2/7/2009 2:50:00 PM

Acara Oprah kali ini membuatku terpana.  Bentar....koq nontonnya oprah show sih ? cewek banget gitu lo..Tapi biarlah, bagi saya acara itu menarik dan lebih baik ditonton daripada nonton sinetron hehehehe..

OK kita lanjut, kenapa acara membuat saya terpana?  Kala itu Oprah membahas orang yang terkena Obsessive Compulsive Disorder atau OCD. OCD adalah penyakit dimana seseorang yang mengidap itu merasa takut akan sesuatu atau melakukan sesuatu yang berulang-ulang.  Duh susah mengartikannya.  Gampangnya gini, seseorang yang takut akan kuman, maka dia akan terus menerus mencuci tangan, engga berani megang sesuatu yang terkesan jorok, melindungi tangan dari bersentuhan dengan manusia dan lain-lain.

Sudah jelas ?  Kalau belum jelas, ada juga orang yang punya kegemaran menumpuk barang-barang dan tidak mau barangnya disentuh orang, bolak-balik mencek kunci rumah atau jendela karena selalu merasa sangsi pintu itu sudah terkunci atau orang yang tidak mau memakan masakan orang lain karena khawatir beracun.  Semua ini berlangsung terus menerus.

Hmm apa akibatnya ? bisa jadi dia akan terkucil, diphk, tidak bisa berkembang, tidak bisa membiarkan anaknya tumbuh bebas bahkan bisa bercerai dengan orang yang dikasihinya....parah kan...

Pada acara tersebut ditunjukkan bagaimana "menyembuhkan" penyakit itu. Metode yang digunakan adalah melawan secara frontal penyakit itu. Jadi konsepnya adalah jika Anda takut akan kuman, maka bersahabatlah dengan kuman. Dimulai dari hal yang ringan dan terus ke arah yang lebih sulit.   Misal orang yang takut akan kuman, dipaksa untuk berpelukan.  Terlihat orang itu tetap menggenggam tangannya dengan maksud supaya tidak bersentuhan dengan orang lain.  Selanjutnya, si instruktur menawarkan orang itu menginjak-nginjak selimut dan bantal yang akan digunakan untuk tidur. Lebih gila lagi orang itu dipaksa memegang pinggiran wc atau tempat sampah dan terus dijilat. Luar biasa bukan...orang udah jelas takut kuman, dipaksa melawan apa yang ada diotak dia bahwa kuman bisa juga bersahabat dengan dia.

Instruktur yang mengawasipun selalu memberi nasehat yang menguatkan kala orang itu ragu-ragu atau merasa down untuk mengerjakan hal menjijikan.  Instruktur itu cuman bilang, "Betapa waktu Anda terbuang karena OCD ini.  Bandingkan jika Anda melakukan ini, dan Anda akan terbebas dari OCD.  Waktu Anda bisa dimanfaatkan untuk hal lain".  Dukungan instruktur membuat orang itu semakin semangat untuk sembuh.  Ending cerita orang itu sembuh dari OCD-nya.

Apa hubungannya dengan bisnis ?

Saya adalah salah satu penderita OCD tersebut.  Saya benar-benar takut untuk membebaskan diri dari pekerjaan.  Ya, pekerjaan kantor yang menjenuhkan namun tetap saya jalani karena ketakutan.  Ribuan jam kerja monoton tetap saya lakoni. Ketakutan apa ?  ketakutan akan tidak dapat uang kalo berhenti bekerja dan full wirausaha.  Ketakutam mengecewakan ibu dan bapak karena anaknya jadi pengangguran.  Ketakutan tidak bisa menghidupi keluarga.  Dan beratus ketakutan lain yang bisa dicari-cari.  Artinya saat ini saya sangat nyaman dan terlindungi oleh pekerjaan saya.  Saya tidak mau keluar dari zone nyaman.

Namun hati kecil ini, pengen sembuh. Karena bagi saya, menjadi karyawan itu bukan impian saya.  Saya pengen bebas bekerja tanpa ada majikan yang taunya harus bekerja keras dan bayaran yang pas-pasan.  Pengen bisa mengentaskan para pengangguran seperti teman saya yang juragan warnet, juragan kedelai, juragan pakaian, juragan furniture dan banyak juragan lainnya.  Pengen lebih banyak waktu untuk keluarga. Dan pengen-pengen yang lain....

Bolak-balik saya baca dan mencoba meresapi tulisan-tulisan mas Hadi, Mas Roni, Mas Harmanto dan para pendekar lainnya.  Namun masih juga belum sembuh.  Namun saya tetap berusaha sembuh. 

Sebetulnya bagaimana sih supaya sembuh ?  Menurut metode di atas, lawan ketakutanmu dengan bersahabat dengan apa yang ditakutkan. Hmm langsung keluar bekerja gitu ?  Bisa iya bisa tidak.  Saya akan merenungi dulu dan berharap ketakutan itu berkurang setelah saya ikut Festivalnya TDA di Jakarta nanti.  Semoga dari sana, saya menemukan "obat kuat" yang bisa secara menguatkan hati ini untuk segera terbebas dari penyakit OCD ini.  Bantu saya dengan doa, kawan....

Sampai Jumpa di Jakarta :)

 

 

Be the first to rate this post

  • Currently 0/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Tags:

Tulisan

Dewantara Soepardi Membuatku Tercekat

by lutfie 1/10/2009 2:30:00 PM

Ditengah hujan yang mengguyur sembungharjo sore itu, aku seperti biasa browsing dan mencari sesuatu di internet.  Istriku asik menikmati pentas idola cilik di RCTI.  Tiba-tiba saja suara istriku mengusik keasyikan berinternet.  Istriku : "Mas...coba lihat itu ? Anak itu pernah muncul di Kick Andy".  Aku menengok TV dan melihat seorang anak kecil berkursi roda.  "Kenapa anak itu ?" sahutku. "Coba liat aja" jawab istriku.

Kutinggalkan chating dengan seorang teman nun jauh disana.  Kuperhatikan percakapan antara Kak Okky dan anak kecil itu yang selalu didampingi sang bunda.  Masya Alloh..... sang anak tidak bisa berbicara dengan lancar.  Tak bisa menggerakkan anggota badannya dengan sempurna.  Air liur selalu meleleh dari mulutnya dan sang bunda dengan penuh kasih sayang selalu melapnya.  "Anak itu menderita penyakit langka Cerebral Palsy", kata istriku.   Hmmm anak itu mengalami cedera otak dan fisik.  Membuatnya tak mampu beraktivitas secara motorik seperti anak lain.

Anak itu bernama Dewantara Soepardi.  Putra pertama pasangan Soepardi dan Poppy Devita Maharani Soepardi.  Baru berumur 5 tahun.  Namun...subhanalloh...Alloh SWT memberikan kemampuan yang luar biasa pada Dewa, panggilan akrabnya.  Dewa mempunyai kemampuan daya ingat fotografik.  Dengan bantuan kertas yang berisi abjad dan diterjemahkan oleh ibunya, Dewa berkomunikasi dengan Kak Okky. 

Satu demi satu aku menyimak tanya jawab antara Kak Okky dan Dewa.  Terungkap bahwa Dewa hobby membaca buku, tebal-tebal kata ibunya.  Selain itu Dewa mempunyai kemampuan bahasa.  Sepintas dia bisa berbahasa German, Mandarin, Inggris dan mungkin bahasa lain.  Subhanalloh...jika Alloh SWT berkehendak, maka tak ada yang bisa menghalangiNya.

Seperti biasa, Kak Okky sudah terbata-bata dalam berkata-kata.  Mungkin airmatanya pun sudah tumpah ruah namun tersembunyi dari kamera TV.  Kulihat Kak Okki juga dengan sayang melap mulut Dewa....Ahhhhh.... tiba-tiba saja hati ini tercekat dan menghasilkan impulse yang memicu otak untuk memerintahkan mata untuk menangis.  Ya Alloh....sore itu saya menangis.  Air mata meleleh tanpa bisa dibendung.  Anak sekecil itu, dengan beban berat dipundaknya, masih terus tersenyum ceria untuk menggapai masa depan.

Terbayang perjuangan ibunda Dewa yang pasti berusaha keras agar bisa mendidik anaknya yang mempunyai keistimewaan itu.  Terbayang hari-hari yang dilalui agar anaknya bisa menjadi anak yang sholeh.  Subhanalloh.....benar-benar Bunda yang tegar.  Langsung ingatanku melayang pada bunda yang telah membesarkanku.

Dewa yang terlihat senang bertemu idolanya, Kak Okky, menghadiahkan puisi indah.  Ahhh....puisi itu sangat indah dan dibuat dengan hati seorang anak berumur 5 tahun.  Berkali-kali sang bunda menangis saat menerjemahkan kata demi kata bait puisi dari Dewa.  Saya pun tersedu.  Air mata hangat menggenang dan menitik tipis ke pipi.

Tiba-tiba saja pikiranku melayang.  Teringat hal-hal yang membuatku malu.  Malu pada Dewa.  Malu pada Alloh SWT.

Betapa hati ini sering lancang mempertanyakan firman-Nya.  Mempertanyakan segala larangan-Nya.  Melalaikan segala perintah-Nya.  Tidak mensyukuri nikmat-Nya. Tentu dengan seribu satu bahkan jutaan alasan yang dikarang-karang.

Betapa sering kita mempertanyakan sesuatu yang sudah jelas dilarang.  Betapa sering kita mencoba mengkaitkan firman-Nya dengan teknologi saat ini.  Seolah-olah kita ini lebih pintar dari ilmu-Nya.  Bahkan sampai berani mengatakan picik pada orang yang berusaha teguh memegang ajaran-Nya.  Istighfar....

Subhanalloh...ESQ yang kulalui tak membuatku menangis.  Namun sepenggal acara yang menampilkan Dewa bisa membuatku terharu dan menangis....

Sebagai penutup, berikut adalah penggalan puisi karya Dewa yang dikutip dari situs Kick Andy :

Bila cintaku datang

Jangan kau ijinkan ia pergi

Apabila arus hidupku terhalang batu

Singkirkan halangan itu dengan doaku



Suaraku kini didengar

Dinegeriku Indonesia

Akupun bahagia

Terima kasih Tuhan

Akupun tersenyum manja

Dewa...engkaulah pemenang idola cilik sesungguhnya....

 

Currently rated 5.0 by 1 people

  • Currently 5/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Tags:

Tulisan

Maaf, Kami Membuatmu Macet Sore Itu

by lutfie 12/30/2008 7:16:00 AM

Ketika usai subuh menjelang, teman-teman satu RW sudah bergerak menuju tempat parkir bus.  Anak-anak pun sudah berdandan dan siap melakukan perjalanan.  Celoteh riang mengiringi langkah kaki kecil mereka. Ransum sarapan, air mineral dan teh botol sudah dipack dan disimpan dalam perut bis.

Ibu yang turut menghantar sampai dipintu masuk bus sempat bertanya, "Ini piknik kantor ?".  "Bukan bu, ini piknik kampung Sembungharjo", jawabku pelan. Hmmm...dari dulu pertanyaan ibu koq selalu itu.  Ya, akhirnya kami, satu RW di Sembungharjo melaksanakan piknik bareng ke Yogyakarta.

Setelah semua peserta naik, akhirnya bus pariwisata dari PO Nugroho berangkat sudah.  Walau ber-AC, namun dengan tempat duduk 2-3 dan diisi dengan puluhan anak dan orang dewasa, bus terasa penuh. Namun sangat lumayanlah karena kami hanya iuran dengan nominal yang sedikit.

Sepanjang perjalanan, pak supir dan kru dengan sigap memutar VCD musik masa kini.  Ternyata...hampir sebagian besar anak-anak turut menyanyikan dengan riang.  Mereka hapal penyanyi dan lirik lagunya.  Mulai dari lagu-lagu Peterpan sampai Project P dengan goyang duyunya itu.  Para bapak tak kalah semangatnya dengan ber-karaoke ketika dangdut koplo digelar.  Ibu-ibu gimana ?  Tentu saja asik menikmati tawa riang anak-anak dan senyum simpul bapak-bapak yang rada nge-fals ketika nyanyi.

Entah saya harus prihatin atau senang mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan anak-anak.  Hanya satu yang membuat saya trenyuh.  Ditengah hingar bingar Cangcuter menggoyang bus, ada seorang anak berumur 2 tahun asyik berdendang sendiri.  Sambil duduk disandaran kursi dan berpegangan pada besi di jendela, dia asik menyanyikan lagu anak-anak.  Matanya ceria memandang hamparan sawah dengan menyanyikan lagu "Naik...naik..kepuncak gunung...tinggi...tinggi..sekali" dengan suara cedalnya.

Tujuan pertama kami adalah Kaliurang.  Niat kami kesana adalah hanya untuk sarapan jadah dan tempe bacem.  Sambil menikmati air terjun disana.  Setelah melewati rimbunan pohon salak dan jajaran sawah, sampai juga di Kaliurang.  Setelah membayar tanda masuk, kami segera menuju ke air terjun.

Namun ketika sampai lokasi, bayangan air terjun deras nan menyegarkan buyar.  Adanya air mili yang seolah menetes dari puncak bukit.  Sampai seorang teman bilang, "Ohh mungkin air terjunnya digilir kayak air di Sembungharjo.  Mengalir setiap 2 jam sekali hehehheehhe...".  Ayak-ayak wae.

Berhubung tidak ada yang bisa dilihat, saya dan keponakan yang ikut melakukan hal yang menyenangkan.  Apalagi kalau bukan mamah memamah makanan.  Segera mengidentifikasi makanan khas.  Rupanya disana banyak yang menjual jadah, tempe dan tahu bacem.  Terlihat juga judul "sate kelinci" dengan menampilkan ikon daging kelinci yang sudah dikuliti.

Kami membeli jadah plus ubo rampenya dan memesan dua porsi sate kelinci.  Jadah sample sangat enak karena masih hangat, namun yang dibungkus sudah dingin.  Lumayan sajalah.  Sate kelincinya kecil-kecil, tidak seperti di Bandung.  Bumbunya pake bumbu kacang.  Rasanya lebih enak dibanding sate kelinci di Pati kata keponakanku.  Mengenai harga, yaahh seperti tempat-tempat wisata lainnya lah.

Setelah sarapan pagi di Kaliurang, kami meluncur ke pantai Parangtritis.  Pantai yang menjadi ikon Yogya dan penuh aura mistis. Katanya...hehehehe...

Disana, anak-anak bisa bermain bebas dipasir dan bibir pantai.  Ombak laut selatan memang gegirisi.  Tinggi dan terkesan angkuh menghempas di pantai,  Kami, para bapak, berusaha keras menjaga anak-anak dari rayuan ombak yang seolah-olah melambai mengajak kita untuk terus ke tengah. Ketika ombak kembali ke laut, sang ombak seolah-olah menarik kita ke tengah laut. Hmm ekstra hati-hati jika bermain di pantai ini.

Terlihat juga seorang teman dan istri begitu menikmati menaiki delman menyusuri pantai.  Ingat masa romantis dulu, katanya.

Sayang karena hari sudah mulai sore, kami harus segera melanjutkan perjalanan. saya belum sempat nge-kuliner di pantai.  Sebetulnya sih tertarik ngeliat geplak warna-warni yang dijajakan.  Namun apa daya, karena kami harus segera menuju malioboro. 

Terlihat mata penuh gairah dan senyum penuh makna dari para ibu-ibu.  Jelas....apalagi kalo bukan niat shopping habis-habisan di Malioboro.

Sebelum menghabiskan uang di Malioboro, pak supir mengajak beli oleh-oleh dulu.  Biar engga kejebak macet katanya.  Jadilah bus yang kami tumpangi masuk ke jalan kecil tempat oleh-oleh bakpia Patuk berada.  Disana, kami bena2-benar terjebak macet.  Beberapa bus besar dan sedang sudah nangkring disana.  Terpaksalah kami beringsut pelan-pelan dan akhirnya bisa menghambur untuk membeli oleh-oleh.  Menurut cerita istri saya, bakpia laris manis.  Bahkan ada yang begitu matang, langsung ludes diserbu pembeli. 

Setelah oleh-oleh terbeli, kami memarkir bus didekat stasiun.  Oalahhh disana juga sudah penuh bus-bus besar dari luarkota.  Dari Cilegon sampai Banyuwangi.  Dari anak-anak sekolah, komunitas, orang tua, tua muda, tumplek blek.  Yogya dilanda macet.  Dan kamilah salah satu penyebabnya. Rupanya musim libur kali ini, Yogya benar-benar diserbu pendatang dari luar kota.

Seperti biasa, Malioboro adalah tempat klangenan ibu-ibu.  Mereka segera menyiapkan dompet dan menghambur sepanjang jalan.  Mulai menyusun strategi mencari harga termurah, berbagi tips dengan ibu-ibu lain agar terjadi deal yang "Oke".  Sementara bapak-bapak ? Jadi baby sitter sambil mengikuti ibu-ibu berbelanja.

Kami sendiri berusaha keras menuju Mirota Batik.  Gimana engga usaha keras, lha wong harus myibak ribuan orang yang menyemut sepanjang jalan Malioboro.  Bener-bener rame saat itu.

Mirota tak kalah ramenya.  Berjubelan.  AC sudah tidak terasa, bau ukup atau menyan bertebaran.  Berbaur dengan bau hio dan tentu saja bau keringat.  Disana susah sekali memilih barang karena penuh sesak.  Ajaib, disana saya lebih banyak mendengar bahasa sunda ketimbang bahasa jawa.  Ada ibu-ibu dengan suara gak sabar berbicara ditelepon, "Di dieu aya anu sae, pesen sabaraha ?".  Atau di sudut lain, "meser naon bu ?".

Karena tenggat waktu berkumpul di bus sudah dekat, akhirnya kami keluar dari Mirota dengan tangan hampa.  Gak ada yang dibeli.  Kami hanya membeli beberapa kaus yogya didepan Mirota.

Untuk makan malam, kami sengaja tidak mencari masakan tradisional Yogya.  Masa ke Yogya makan gudeg lagi atau makan lesehan di Malioboro ? Hehehehehe...

Kami sengaja makan di Yogya Mall dan memesan beberapa porsi masakan Jepang.  Hmmm bayangkan, makan masakan Jepang dikota budaya Jawa.  Aneh kan ?

Setelah puas makan, langsung cabut ke tempat parkir Bus.  Ternyata kami sudah ditunggu.  Akhirnya, bus kami mulai berjalan dan mulai terseok-seok mencari cara keluar dari kemacetan. 

Ahhh Yogya yang dulu sepi sekarang sudah mulai kena macet.  Yang dulu sarat dengan bangunan kuno sekarang sarat dengan model minimalis yang penuh dengan reklame.  Sepertinya kapitalisme mulai lahir dan mencengkeram kota ini :)

 

Be the first to rate this post

  • Currently 0/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Tags:

Jalan-Jalan | Makan-Makan

Berbisnis dengan Hati, Hati dengan Bisnis

by lutfie 12/26/2008 12:34:00 PM

Wolak walik ing jaman.  Kadang kita selalu tertipu dengan penampilan.  Penampilan yang sholeh dengan semburan salam, hembusan hamdalah dan segala hal yang bercirikan muslim yang taat.  Namun ternyata....tampilan selalu tidak menunjukan hati yang sesungguhnya.

Ini akan terasa saat kita terjun ke bisnis.  Saya sering mengalami dan melihat, bagaimana orang menikam dari belakang,  Mencuri ide bisnis, mengaku saudara namun dibalik hatinya mencari celah untuk menipu, berlaku sewenang-wenang terhadap suatu komunitas, dan masih banyak seribu cara dan model :)

Yang bikin hati ini miris, hal ini banyak dilakukan oleh saudara muslim kita sendiri.  Kenapa ?  Apakah sekarang saatnya ajaran islam itu hanya formalitas saja, sehingga kita mendzalimi saudara kita tanpa merasa bersalah ?  Apakah sholat yang kita lakukan hanya untuk menggugurkan kewajiban saja ? sehingga kita dengan mudahnya memanfaatkan saudara muslim untuk kepentingan pribadi saja ?

Jika hal ini berlanjut terus menerus, apakah kita lebih baik berdagang dengan kaum lain ?  Bagaimana kita mau memperjuangkan umat jika dalam diri kita hanya terbersit semua hal duniawi untuk kepentingan diri dan keluarga saja.

Wahai saudara muslim, mumpung menjelang tahun baru islam, ayo lakukan perubahan.  Singkirkan niat busuk mendahulukan kepentingan pribadi dengan dalih memperjuangkan kepentingan umum.  Singkirkan niat busuk membuat brand image pribadi dengan dalih membentuk brand image kepentingan umum.   Singkirkan niat busuk untuk menyingkirkan teman-teman dengan dalih sudah tidak sejalan.

Hanya segitukah yang kita mampu ? 

 

 

Currently rated 4.0 by 1 people

  • Currently 4/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Tags:

Tulisan

Pecoh Telor

by lutfie 12/15/2008 10:01:00 AM

Akhirnya....pecah telor juga ngomong didepan public.  Berkat bantuan mas Ridi, akhirnya saya bisa ikutan acara community skill accelerator di UKDW Yogya. Hmm masih jelek sih presentasinya.  Namun saya bersyukur bisa "memulai" langkah awal ini.  Trims buat ridi, baskoro, erik dan teman-teman lain yang sudah memberi kesempatan ini :)

Foto-foto bisa diliat di http://my.inbox.com/Photos/ridi/index.aspx dibagian CSA-Vista Springboard Series

 

Be the first to rate this post

  • Currently 0/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Tags:

Belajar | Jalan-Jalan

Nge-Ronde... Bukan Nge-Rondo

by lutfie 12/12/2008 10:10:00 AM
Semalam, sehabis menengok tetangga yang sedang menginap di panti wilasa, saya dan istri iseng-iseng cari "mangsa" di seputaran perumnas tlogosari.

Kami tergolong omnivora, jadi tidak memilih-milih menu yang akan dimangsa.  Bisa daging segar, ikan basah ataupun sayur mentah.  Hajar blehhh pokoknya.

Namun setelah melewati jembatan 2 (tempat mangkal es klamud enak kalo siang), sepintas di warung mie lampung yang buka dasaran disebuah bengkel, ada "sesuatu" yang menggoda.

Sebuah angkringan dengan judul Wedang Ronde menggoda selera.  Terletak di depan bengkel dan berada di alam terbuka.  Dengan bangku-bangku plastik dan meja panjang membuat suasana ndeso langsung menyergap.

Pengunjung pun terlihat lumayan banyak.  Bersliweran dan bergantian. Masing-masing asyik menyeruput wedang pesanannya.  Kontras dengan mie lampung sebelah yang sepi pengunjung.

Rencana awal mo bersantap besar akhirnya batal. Kami memutuskan nge-ronde aja.  Apalagi saat itu cuaca dingin menusuk tulang, cukup mendukung untuk menghangatkan diri dengan cairan hangat ber-jahe.

Babak pertama, saya menyikat sebutir donat keju dan coklat.  Sedangkan istri terlihat menikmati tahu bacem dan mie soun.  Hmm rupanya penganan ini "barang titipan".  Artinya bukan penjual ronde yang menyediakan. Lumayan sebagai cemilan sebelum si wedang datang menjelang.

Wedang Ronde disini tergolong lumayan.  Air jahe panas plus gulanya lumayan bikin hangat badan.  Tidak terlalu pahit.  Kolang kaling nya juga enak dikunyah.  Apalagi kacang tanahnya, hmmm crispy walau terendam cukup lama dalam lautan air jahe hangat.  Mak kriukkk ketika dimamah. Bulatan kenyal berisi gerusan kacangnya bikin mak njelegug.  Begitu kenyal namun lumer ketika digigit.  Ada sensasi gurih dan manis yang berpadu dengan nikmatnya.  Di sruput pelan-pelan, rasakan hangat menjalar....Lheerrrr....dehh...

Hmmm katakan...!!! nikmat dari siapa yang engkau terima ini...

Sebetulnya masih ada menu lain, wedang ketan duren dan es puter ketan duren.  Namun berhubung si aliran darah masih harus dijaga, keinginan menyeruput wedang atau es ber duren ditunda dulu :)

Be the first to rate this post

  • Currently 0/5 Stars.
  • 1
  • 2
  • 3
  • 4
  • 5

Tags:

Makan-Makan

Powered by BlogEngine.NET 1.3.1.0
Theme by Mads Kristensen

About the author

Lutfie Royan Lutfie Royan
Saat ini bekerja sebagai IT Pro di lingkungan Windows Server System pada sebuah perusahaan manufaktur di Semarang.

E-mail me Send mail

Calendar

<<  July 2009  >>
MoTuWeThFrSaSu
293012345
6789101112
13141516171819
20212223242526
272829303112
3456789

View posts in large calendar

Pages

    Recent posts

    Recent comments

    Authors

    Disclaimer

    The opinions expressed herein are my own personal opinions and do not represent my employer's view in anyway.

    © Copyright 2009

    Sign in

    Powered By

    Erudeye