Saat Pilgub lalu, berhubung saya bingung mau nyoblos cagub yang mana,
akhirnya saya nyoblos udang untuk mancing. Ya, saya dan tetangga
kampung, minggu itu memilih untuk mancing di sekitar pantai Moro,
Sayung, Kabupaten Demak.
Berbekal joran, walesan, timah pemberat dan pancing dan semangat untuk
mendapatkan krapu dan ceplekan, kami berangkat berdelapan.
Setiba dilokasi, team pemancing senior segera menyebar mencari udang
hidup dan udang mati (putihan) untuk umpan. Sayang sekali udang hidup
tidak ditemui. Mungkin pencari udang sedang nyoblos sehingga minggu itu
udang hidup menjadi barang langka. Puluhan pemancing juga kecewa. Hmmm
alamat engga dapat ceplekan nih. Namun, lumayan lah dapat umpan
putihan. Cukup untuk mancing ikan kecil-kecil.
Lokasi terletak di muara sungai (sekitar jembatan) sebelum pintu masuk
pantai moro belok kiri (arah barat). Disana sudah berkumpul para
pemancing dari berbagai wilayah Semarang. Mereka mengincar ikan yang
sama, krapu dan ceplekan.
Jejeran kendaraan bermotor, mobil bahkan sepeda onthel sudah memenuhi
pinggir jalan. Hmm sedikit terlambat sih, namun lumayanlah sebab pasang
belum naik.
Peralatan pancing segera digelar dan disiapkan. Karena engga dapat
udang hidup, akhirnya dipilih mata kail yang kecil dan dipasang timah
pemberat. Hari ini pemancing dari kampung saya, dibebani tugas oleh
ibu-ibu agar bisa memancing sebanyak-banyaknya. Sebab malamnya,
ibu-ibu akan menyiapkan barbeque a la ndeso. Kalo engga dapat ikan,
terpaksa deh mancing di Pasar Kobong. Sebab the show must go on hehehhee
Unik dan enaknya berkumpul dengan pemancing adalah senda gurau yang
santai, gocekan, sindiran yang sarkatis namun no hurt feeling dehhh
Gurauan "Mas, lagi ngekum pancing ya ?" kalo kita bolak balik naikin
joran tanpa hasil. Atau "ndi..ki krapu e..." yang lain nimpali
"karepmu". Semua mengalir tanpa beban dan rasa gondok. Rupanya Guyup,
Guyon dan Gayeng adalah motto para pemancing.
Kadang, kalo lagi asyik masyuk dengan pancing, para pemancing terdiam
memandangi air sambil memeluk pancingnya. Berharap dimakan ikan besar.
Jika kehabisan umpan ? hmm bisa minta sama sebelah. Jika engga punya
pancing ? bisa pinjam juga bagi yg kelebihan pancing.
Kadang juga duduk berhimpitan dipinggir sungai, berusaha memancing
dilokasi yang sama. Namun semuanya itu tidak salng sikut, saling pepet
atau berebut seperti di dunia usaha. Rasanya hati culas itu telah
dibuang jauh-jauh dari otak pemancing.
Memang memancing memberi kesan malas, namun ditengah lapangan kerja
sempit, mancing bisa jadi sumber pendapatan tambahan. Minimal tidak
perlu uang untuk beli lauk.
Ahh rasanya damai dan tentram kalo berkumpul bareng. Coba para petinggi
pemerintahan atau perusahaan mencoba belajar pada kehidupan para
pemancing. Mungkin dunia politik lebih adem, karena pasti rapat-rapat
politik lebih banyak diisi dengan obrolan tentang dimana banyak ikan,
teknik mancing, nyari umpan dan lain-lain :)
Salam Mancing