Ketika usai subuh menjelang, teman-teman satu RW sudah bergerak menuju tempat parkir bus. Anak-anak pun sudah berdandan dan siap melakukan perjalanan. Celoteh riang mengiringi langkah kaki kecil mereka. Ransum sarapan, air mineral dan teh botol sudah dipack dan disimpan dalam perut bis.
Ibu yang turut menghantar sampai dipintu masuk bus sempat bertanya, "Ini piknik kantor ?". "Bukan bu, ini piknik kampung Sembungharjo", jawabku pelan. Hmmm...dari dulu pertanyaan ibu koq selalu itu. Ya, akhirnya kami, satu RW di Sembungharjo melaksanakan piknik bareng ke Yogyakarta.
Setelah semua peserta naik, akhirnya bus pariwisata dari PO Nugroho berangkat sudah. Walau ber-AC, namun dengan tempat duduk 2-3 dan diisi dengan puluhan anak dan orang dewasa, bus terasa penuh. Namun sangat lumayanlah karena kami hanya iuran dengan nominal yang sedikit.
Sepanjang perjalanan, pak supir dan kru dengan sigap memutar VCD musik masa kini. Ternyata...hampir sebagian besar anak-anak turut menyanyikan dengan riang. Mereka hapal penyanyi dan lirik lagunya. Mulai dari lagu-lagu Peterpan sampai Project P dengan goyang duyunya itu. Para bapak tak kalah semangatnya dengan ber-karaoke ketika dangdut koplo digelar. Ibu-ibu gimana ? Tentu saja asik menikmati tawa riang anak-anak dan senyum simpul bapak-bapak yang rada nge-fals ketika nyanyi.
Entah saya harus prihatin atau senang mendengar lagu-lagu yang dinyanyikan anak-anak. Hanya satu yang membuat saya trenyuh. Ditengah hingar bingar Cangcuter menggoyang bus, ada seorang anak berumur 2 tahun asyik berdendang sendiri. Sambil duduk disandaran kursi dan berpegangan pada besi di jendela, dia asik menyanyikan lagu anak-anak. Matanya ceria memandang hamparan sawah dengan menyanyikan lagu "Naik...naik..kepuncak gunung...tinggi...tinggi..sekali" dengan suara cedalnya.
Tujuan pertama kami adalah Kaliurang. Niat kami kesana adalah hanya untuk sarapan jadah dan tempe bacem. Sambil menikmati air terjun disana. Setelah melewati rimbunan pohon salak dan jajaran sawah, sampai juga di Kaliurang. Setelah membayar tanda masuk, kami segera menuju ke air terjun.
Namun ketika sampai lokasi, bayangan air terjun deras nan menyegarkan buyar. Adanya air mili yang seolah menetes dari puncak bukit. Sampai seorang teman bilang, "Ohh mungkin air terjunnya digilir kayak air di Sembungharjo. Mengalir setiap 2 jam sekali hehehheehhe...". Ayak-ayak wae.
Berhubung tidak ada yang bisa dilihat, saya dan keponakan yang ikut melakukan hal yang menyenangkan. Apalagi kalau bukan mamah memamah makanan. Segera mengidentifikasi makanan khas. Rupanya disana banyak yang menjual jadah, tempe dan tahu bacem. Terlihat juga judul "sate kelinci" dengan menampilkan ikon daging kelinci yang sudah dikuliti.
Kami membeli jadah plus ubo rampenya dan memesan dua porsi sate kelinci. Jadah sample sangat enak karena masih hangat, namun yang dibungkus sudah dingin. Lumayan sajalah. Sate kelincinya kecil-kecil, tidak seperti di Bandung. Bumbunya pake bumbu kacang. Rasanya lebih enak dibanding sate kelinci di Pati kata keponakanku. Mengenai harga, yaahh seperti tempat-tempat wisata lainnya lah.
Setelah sarapan pagi di Kaliurang, kami meluncur ke pantai Parangtritis. Pantai yang menjadi ikon Yogya dan penuh aura mistis. Katanya...hehehehe...
Disana, anak-anak bisa bermain bebas dipasir dan bibir pantai. Ombak laut selatan memang gegirisi. Tinggi dan terkesan angkuh menghempas di pantai, Kami, para bapak, berusaha keras menjaga anak-anak dari rayuan ombak yang seolah-olah melambai mengajak kita untuk terus ke tengah. Ketika ombak kembali ke laut, sang ombak seolah-olah menarik kita ke tengah laut. Hmm ekstra hati-hati jika bermain di pantai ini.
Terlihat juga seorang teman dan istri begitu menikmati menaiki delman menyusuri pantai. Ingat masa romantis dulu, katanya.
Sayang karena hari sudah mulai sore, kami harus segera melanjutkan perjalanan. saya belum sempat nge-kuliner di pantai. Sebetulnya sih tertarik ngeliat geplak warna-warni yang dijajakan. Namun apa daya, karena kami harus segera menuju malioboro.
Terlihat mata penuh gairah dan senyum penuh makna dari para ibu-ibu. Jelas....apalagi kalo bukan niat shopping habis-habisan di Malioboro.
Sebelum menghabiskan uang di Malioboro, pak supir mengajak beli oleh-oleh dulu. Biar engga kejebak macet katanya. Jadilah bus yang kami tumpangi masuk ke jalan kecil tempat oleh-oleh bakpia Patuk berada. Disana, kami bena2-benar terjebak macet. Beberapa bus besar dan sedang sudah nangkring disana. Terpaksalah kami beringsut pelan-pelan dan akhirnya bisa menghambur untuk membeli oleh-oleh. Menurut cerita istri saya, bakpia laris manis. Bahkan ada yang begitu matang, langsung ludes diserbu pembeli.
Setelah oleh-oleh terbeli, kami memarkir bus didekat stasiun. Oalahhh disana juga sudah penuh bus-bus besar dari luarkota. Dari Cilegon sampai Banyuwangi. Dari anak-anak sekolah, komunitas, orang tua, tua muda, tumplek blek. Yogya dilanda macet. Dan kamilah salah satu penyebabnya. Rupanya musim libur kali ini, Yogya benar-benar diserbu pendatang dari luar kota.
Seperti biasa, Malioboro adalah tempat klangenan ibu-ibu. Mereka segera menyiapkan dompet dan menghambur sepanjang jalan. Mulai menyusun strategi mencari harga termurah, berbagi tips dengan ibu-ibu lain agar terjadi deal yang "Oke". Sementara bapak-bapak ? Jadi baby sitter sambil mengikuti ibu-ibu berbelanja.
Kami sendiri berusaha keras menuju Mirota Batik. Gimana engga usaha keras, lha wong harus myibak ribuan orang yang menyemut sepanjang jalan Malioboro. Bener-bener rame saat itu.
Mirota tak kalah ramenya. Berjubelan. AC sudah tidak terasa, bau ukup atau menyan bertebaran. Berbaur dengan bau hio dan tentu saja bau keringat. Disana susah sekali memilih barang karena penuh sesak. Ajaib, disana saya lebih banyak mendengar bahasa sunda ketimbang bahasa jawa. Ada ibu-ibu dengan suara gak sabar berbicara ditelepon, "Di dieu aya anu sae, pesen sabaraha ?". Atau di sudut lain, "meser naon bu ?".
Karena tenggat waktu berkumpul di bus sudah dekat, akhirnya kami keluar dari Mirota dengan tangan hampa. Gak ada yang dibeli. Kami hanya membeli beberapa kaus yogya didepan Mirota.
Untuk makan malam, kami sengaja tidak mencari masakan tradisional Yogya. Masa ke Yogya makan gudeg lagi atau makan lesehan di Malioboro ? Hehehehehe...
Kami sengaja makan di Yogya Mall dan memesan beberapa porsi masakan Jepang. Hmmm bayangkan, makan masakan Jepang dikota budaya Jawa. Aneh kan ?
Setelah puas makan, langsung cabut ke tempat parkir Bus. Ternyata kami sudah ditunggu. Akhirnya, bus kami mulai berjalan dan mulai terseok-seok mencari cara keluar dari kemacetan.
Ahhh Yogya yang dulu sepi sekarang sudah mulai kena macet. Yang dulu sarat dengan bangunan kuno sekarang sarat dengan model minimalis yang penuh dengan reklame. Sepertinya kapitalisme mulai lahir dan mencengkeram kota ini :)